Menilik Keanggunan Patung Hachiko,  Ikon Wisata yang Kisahnya Mengharukan

Menilik Keanggunan Patung Hachiko, Ikon Wisata yang Kisahnya Mengharukan

Menilik Keanggunan Patung Hachiko, Ikon Wisata yang Kisahnya Mengharukan

 

Siapa yang tak mengenal anjing legendaris Hachiko? Anjing dari ras Akita ini semakin populer ketika kisahnya mulai diangkat ke layar lebar pada bulan Oktober 1987 oleh sutradara Seijiro Koyama dengan judul Hachiko Monogatari.

Sejak kelahirannya pada 10 November 1923, anjing bernama asli Hachi ini dipelihara dengan baik oleh majikannya, Profesor Hidesaburo Ueno. Ueno-sensei—begitu ia biasa dipanggil—merupakan seorang dosen teknik pertanian di Universitas Imperial Tokyo (sekarang Universitas Tokyo).

Setiap kali hendak berangkat kerja, Ueno-sensei biasa mengajak Hachi hingga ke Stasiun Shibuya. Kemudian Hachi akan kembali ke stasiun untuk menjemputnya saat petang tiba. Begitu seterusnya. Setiap hari.

Namun pada tahun 1925, Profesor Ueno mendadak terkena serangan jantung seusai mengikuti rapat di kampus. Jasadnya dimakamkan empat hari kemudian.

Malangnya, Hachi seolah tidak tahu apa-apa. Ia tidak paham bahwa majikan yang selama ini menyayanginya telah tiada. Hachi masih terus menunggu majikannya yang tak kunjung pulang. Bahkan ia sampai tidak mau makan selama tiga hari. Setiap petang, Hachi setia menanti kepulangan majikannya di Stasiun Shibuya.

Tidak jarang, Hachi menerima perlakukan kasar dari warga sekitar. Namun, Hachi bergeming.

Kisah mengharukan Hachi ternyata menyentuh hati Hirokichi Saito dari Asosiasi Pelestarian Anjing Jepang. Saito kemudian menulis sebuah artikel berjudul Itoshiya Roken Monogatari (Kisah Anjing Tua yang Tercinta) yang dimuat di harian Tokyo Asahi Shimbun.

Publik akhirnya menyadari kisah pilu di balik hadirnya Hachi di Stasiun Shibuya. Warga sekitar pun mulai menyanyanginya. Sejak itu, mereka menambahkan akhiran “ko” di belakang nama Hachi, yang berarti “sayang”.

Selanjutnya pada tahun 1934, diadakan proyek pengumpulan dana untuk membuat patung perunggu Hachiko. Patung tersebut diarsiteki seorang pematung kenalan Saito, Teru Ando. Patung Hachiko akhirnya selesai dan diresmikan pada bulan April 1934.

Sayang, pada tanggal 8 Maret 1935, Hachiko ditemukan sudah tidak bernyawa di usia 13 tahun. Banyak orang menghadiri upacara pemakamannya. Selayaknya upacara pemakaman manusia.

Kisah mengenai kesetiaan Hachiko terus menyebar seantero Jepang. Bahkan kisahnya dimasukkan ke dalam buku pendidikan moral untuk murid kelas dua sekolah dasar dengan judul On o Wasureruna (Balas Budi Jangan Dilupakan).

Meski Patung Hachiko sempat dilebur untuk keperluan pada Perang Dunia II, namun patung pengganti segera dibuat kembali pada bulan Agustus 1948. Patung tersebut dibuat oleh Takeshi Ando dan diletakkan di Stasiun Shibuya hingga kini.

Dunia semakin mengenal Hachiko ketika kisahnya direka ulang pada tahun 2009. Film berjudul “Hachi: The Dog’s Tale” tersebut disutradarai oleh Lasse Halstrom dan diperankan oleh Richard Gere. Meski berlatar belakang Amerika Serikat, cerita yang ditampilkan tetap menguras air mata penonton.

Kalau Anda sedang Tour ke Jepang, jangan lupa mampir ke patung yang menjadi kebanggaan negeri sakura tersebut. Patung Hachiko berada persis di depan pintu keluar JR Shibuya. Pintu itu pun kemudian dikenal dengan nama Pintu Keluar Hachiko. Di tempat itulah, Hachiko biasa berdiri menunggu Ueno-sensei pulang dari kampusnya.

Orang-orang yang sedang melakukan travel ke Jepang, biasanya menjadikan Patung Hachiko ini sebagai destinasi penting dalam paket liburan mereka. Bukan semata karena anggunnya patung itu, tetapi juga sebab kisah mengharukan yang ada di baliknya.

Anda juga bisa menjadikan patung ini sebagai titik pertemuan dengan teman-teman. Sebagai sebuah stasiun yang besar, Shibuya memilki cukup banyak pintu keluar dan perempatan penyeberangan. Memilih Patung Hachiko sebagai lokasi meeting point merupakan keputusan yang tepat dan memudahkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *