Iyashi No Sato, Desa Tradisional yang Asri dan Tenang

Iyashi No Sato, Desa Tradisional yang Asri dan Tenang

Iyashi No Sato, Desa Tradisional yang Asri dan Tenang

Memilih liburan ke Jepang memang merupakan keputusan yang tepat. Rasanya kita seperti memesan paket wisata yang amat lengkap. Pusat belanja di mana-mana, kuliner beragam, teknologinya canggih, alamnya menakjubkan, dan tentu saja lingkungan pedesaan yang asri serta menenangkan.

Salah satu desa yang wajib Anda kunjungi saat tour ke Jepang ialah Iyashi No Sato. Desa yang dikenal pula dengan nama Nenba Hama ini terletak di tepi barat Danau Saiko. Atau lebih tepatnya di Fujikawaguchiko-machi, Minamitsuru-gun, Yamanashi.

Awalnya, ada banyak orang yang mendiami desa ini. Tetapi pada tahun 1966, Iyashi No Sato pernah dilanda topan dan tanah longsor. Setelah itu, desa tersebut pun hancur dan ditinggalkan penduduknya.

Empat tahun kemudian, desa ini dikonstruksi ulang. Sekitar dua puluh rumah didirikan lengkap dengan atap tradisionalnya yang terbuat dari jerami serta anyaman bambu. Bentuknya juga beragam. Ada rumah yang memiliki taman, kolam ikan, dan pancuran. Ada pula rumah yang lebih mirip sebagai tempat makan. Saat masuk ke dalamnya, Anda akan merasakan nuansa Jepang zaman dahulu.

Namun, desa ini tidak lagi dihuni. Iyashi No Sato beralih fungsi menjadi museum alam terbuka (Open Air Museum) sekaligus desa kerajinan tradisional.

Desa berjuluk Healing Village (Kampung Segar) ini menawarkan panorama alam yang masih asli dan alami. Suasananya begitu asri oleh pepohonan hijau dan segarnya air danau. Udara pegunungannya pun terasa sejuk dan lembut saat menyentuh kulit.

Tak heran, desa ini sangat terkenal di kalangan wisatawan. Bersaing dengan Desa Shirakawago di Gifu dan Desa Boso No Mura di Chiba. Orang-orang biasanya datang untuk bersantai dan “melarikan diri” dari hingar-bingar perkotaan.

Di sini, terdapat pula rumah yang menjual hasil kerajinan khas Jepang. Anda bisa loh menyewa kostum seperti kimono atau yoroi (busana pasukan perang zaman dahulu). Dengan tarif 500 yen, Anda sudah bisa memakainya untuk berfoto ria dengan latar belakang Gunung Fuji, Danau Kawaguchiko, dan rumah pedesaan Jepang.

Jangan lewatkan pula menyantap menu lokal khas Yamanashi bernama Hoto. Yaitu semacam mie berukuran lebar yang dimasak dalam kuah miso dan sayuran. Mie Soba asli Yamanashi juga lezat, loh.

Sebelum pulang, jangan lupa membeli cinderamata di toko oleh-oleh yang tersedia. Aneka kerajinan tangan, pajangan rumah berbahan kayu, keramik, dan kartu ucapan menunggu untuk dibawa Anda ke tanah air. Sangat pas buat jadi kenang-kenangan yang tak terlupakan.

Untuk mencapainya, Anda bisa naik kerete ekspress dari Stasiun Shinjuku ke arah Kofu, kemudian turun di Stasiun Otsuki. Selanjutnya, berpindah ke kereta Fuji Ekspress menuju Stasiun Kawaguchiko. Dari stasiun tersebut, Anda bisa naik bus Retro Saiko atau Aokigahara Line. Turun di halte bus Iyashinosato Nenba, lalu jalan kaki selama 10 menit hingga ke lokasi.

Total ongkos yang dihabiskan sekitar 1.750 sampai 3.400 yen, dengan waktu tempuh kurang lebih 4 jam.

Operasional desa dimulai dari pukul 9 pagi hingga 5 sore. Biaya masuknya sendiri adalah 350 yen untuk orang dewasa dan 150 yen untuk anak-anak.

Sekadar tips wisata, sebaiknya datanglah ke tempat ini bersama teman atau rombongan. Sebab jika sudah sore, daerah Iyashi No Sato menjadi relatif sepi. Tapi kalau Anda mau bermalam di daerah sekitar, bisa kok. Ada beberapa penginapan yang jaraknya kurang lebih 20 km dari lokasi. Tarifnya kamarnya mulai dari 4000 yen per malam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *